Iklan

Adian Napitupulu Minta Erick Thohir Tunjuk Mafia Alkes Corona, BUMN atau BNPB?

Tuesday, April 21, 2020, April 21, 2020 WIB Last Updated 2020-06-18T06:29:20Z

GO1news.com | Tanpa ada angin dan badai, tiba-tiba Menteri BUMN Erik Thohir berbicara tentang mafia alat kesehatan (alkes).

Begitu kata anggota DPR RI dari Fraksi PDIP, Adian Napitupulu. Ia mengatakan, tentu yang dimaksud Erik Thohir adalah semua alkes dan obat terkait Corona.

Adian mempertanyakan siapa mafia alkes yang dimaksud Erik Thohir. Kata mafia merujuk pada kalimat “mereka yang mendominasi” yang disampaikan Erik Thohir.

“Pernyataan adanya mafia adalah pernyataan serius yang bisa menyasar ke siapapun. Kalau ukuran mafianya adalah dominasi impor alkes dan obat, maka bisa jadi hanya dua lembaga yang memenuhi syarat dominasi yaitu BNPB dan BUMN,” kata Adian melalui siaran persnya, Selasa (21/4).

“Apakah pernyataan Erik ini menyasar ke BNPB? Mungkin saja, karena ada 19 jenis alkes yang rekomendasi impornya dikeluarkan BNPB,” tambah Adian.

Adian membeberkan daftar rekomendasi impor alkes dari BNPB. Yakni surgical apparel, disinfektan, sarung tangan steril, sarung tangan pemeriksaan, thermometer, ventilator infusion pump, mobile x-ray, high flow oxygen device, bronchoscopy portable, power air purifying respirator CPAP Mask, CPAP machine.

Kemudian ECMO (extracorporeal membrane oxygenation), breathing circuit for ventilator and incubator transport, transport culture medium, microbiological specimen collection and transport device (dacron swab), alat rapid test COVID-19, dan resuscitation bag.

Adian menyebut tuduhan Erick Thohir bisa menyasar siapa pun. Bisa juga Erik sedang menegur oknum atau BUMN di bawah kementriannya yang mendominasi impor alkes dan obat.

“Atau jangan jangan pernyataan Erik itu menuduh saya karena satu bulan lalu saya pernah meminta pemerintah memudahkan impor alkes walaupun saya bukan importir dan trader,” kata Adian.

“Dan sebagai calon tertuduh, setengah tertuduh atau berpotensi menjadi tertuduh, maka anggap saja tulisan ini semacam hak jawab,” tambah Adian.

Adian kemudian membeberkan data pengimpor alkes dan obat yang didominasi BUMN. Berikut ini datanya:

1. RNI impor 500.000 Rapid test dari Cina

2. Indo Farma impor 100.000 rapid test

3. Kimia Farma impor 300.000 rapid test.

4. Bio Farma impor bahan baku untuk 500.000 obat dari India untuk membuat Oseltamivir

5. BUMN impor 2 juta Avigan.

6. BUMN impor bahan pembuat 3 juta klorokuin.

7. BUMN dan BKPM impor bahan baku APD dari China dan Korea.

8. BUMN impor 20 PCR dari Farmas Roche Swiss.

“Dengan data itu sebenarnya BUMN salah satu yang mendominasi impor alkes dan obat,” katanya.

Adian heran dengan pernyataan Erick Thohir yang menyebut ada yang mendominasi impor alkes dan obat.

“BNPB yang keluarkan rekomendasi impor, BUMN ikutan mendominasi impor, tapi menteri BUMN sekarang bicara bahwa ada mafia yang mendominasi impor alkes,” katanya.

“Jadi sebenarnya siapa mafianya Pak Menteri? Kalau impor Alkes harus ada rekomendasi sekian lembaga negara, apakah Pak Menteri ingin katakan bahwa mafia mafia itu dapatkan rekomendasi juga?,” tanya Adian.

Menurut Adian, jika pernyataan Menteri BUMN dimaksudkan untuk memotivasi agar Indonesia memproduksi sendiri alat kesehatan dan obat, tentu itu ide bagus. Tapi sayang Indonesia tidak punya kemampuan negosiasi dengan virus agar menunda infeksi sampai siap produksi alkes dan obat sendiri.

Jadi ide cerdas itu, kata Adian, juga sedang berlomba antara kecepatan produksi alkes dan obat dalam negeri versus kecepatan penyebaran infeksi virus.

“Ah sudahlah. Begini Pak Menteri, kalo memang ada mafia dan buktinya cukup maka segera lapor Presiden, lapor polisi atau KPK, lengkapi bukti bukti trus tangkap, jangan cuma bicara ke media saja dan membuat rakyat dan pelaku usaha saling curiga,” tegas Adian.

“Ini situasi di mana semua tertekan, jangan ditambah dengan tuduhan kanan kiri lagi. Jangan juga membuat importir dan trader yang mau impor jadi tidak berani karena takut di tuduh mafia sementara kebutuhan alkes dan obat untuk 260 juta jiwa itu tidak sedikit dan belum tentu Negara mampu memenuhi semuanya sendiri,” pungkas Adian. (pjk)
Komentar

Tampilkan

Terkini

SELEBRITI

+