Iklan

Fakta Terbaru, Ahli Sebut Virus Corona Memicu Gagal Ginjal

Wednesday, April 22, 2020, April 22, 2020 WIB Last Updated 2020-06-18T06:29:08Z

GO1news.com | Sebagian besar pasien positif corona dilaporkan mengalami gangguan pada ginjal. Hal ini tentu mempersulit proses perawatan dan mengurangi peluang mereka untuk bertahan hidup.

Namun, hingga saat ini belum diketahui secara pasti bagaimana tepatnya virus corona dalam memengaruhi kesehatan ginjal pasien. Organ tubuh ini sejatinya memang memiliki peranan penting sebagai pembersih suplai darah di dalam tubuh.

Meskipun demikian, para ahli rupanya memiliki teori tersendiri. Sebagian di antara mereka menyebut bahwa virus corona atau COVID-19 secara langsung menyerang ginjal penderitanya. Klaim tersebut diperkuat oleh sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cell pada Maret lalu.

Penelitian itu menjelaskan, virus corona menginfiltrasi tubuh dengan mengikat jenis reseptor pada sel yang disebut ACE2. Reseptor khusus ini ditemukan tidak hanya di sel-sel jantung dan paru-paru saja, tetapi juga di ginjal.

"Reseptor ACE2 pada dasarnya adalah 'tempat berlabuh' untuk virus tersebut," ujar Dr. George Thomas, seorang nephrologist dari Glickman Urogical and Kidney Instite di Cleveland Clinic.

Selain itu, kerusakan ginjal yang terlihat pada pasien positif corona bisa jadi karena tubuh tidak mampu memberikan oksigen yang cukup ke organ. Hal tersebut dijelaskan secara gamblang oleh Presiden Asosiasi Ginjal Nasional, DR. Holly Kramer kepada NBC News.

Kramer mengatakan, COVID-19 benar-benar telah 'memukul' paru-paru dengan keras, sehingga menyulitkan tubuh untuk mendapatkan okisgen yang dibutuhkan. Artinya, tidak menutup kemungkinan kerusakan ginjal disebabkan oleh efek virus pada darah yang dapat menyebabkan pembekuan. Hipotesis ini cukup masuk akal karena pada dasarnya, salah satu fungsi utama ginjal adalah menyaring darah melalui ribuan kapiler kecil yang sangat rentan terhadap pembekuan.

Dalam arti lain, bila pembekuan darah benar-benar terjadi, para ahli mengklaim bahwa hal tersebut kemungkinan besar karena efek dari sistem kekebalan tubuh yang rusak, serta meningkatnya peradangan yang mereka sebut dengan istilah badai sitokin (cytokine storm).

"Sitokin-sitokin itu seharusnya menyerang virus, tetapi sistem kekebalan tubuh pada akhirnya melepaskan sejumlah besar sitokin, dan mereka akhirnya malah menyerang sel dan jaringan kita sendiri," kata Thomas.


Menyumbat filter tubuh 



Lebih lanjut dr. Kramer menjelaskan, ginjal pada dasarnya juga berfungsi mengeliminasi 'sampah' di dalam tubuh, serta mendaur ulangnya. Bila kapiler-kapiler kecil itu tiba-tiba tersumbat, dan darah tidak bisa bergerak dengan baik, ginjal tidak akan bisa menyaring darah secara maksimal.

Alhasil, para dokter biasanya akan menggunakan mesin dialisis untuk membantu pasien dengan fungi ginjal yang buruk. Sayangnya, darah dari pasien positif COVID-19 dilaporkan menggumpal terlalu banyak.Dokter mengklaim, kondisi tersebut justru dapat menyumbat filter dalam mesin dialisis (mesin cuci darah), sehingga mereka harus menambahkan pengencer darah ke rejimen pengobatan pasien agar mesin dapat berfungsi dengan baik.


Perawatan yang rumit 



Ketika fungsi ginjal pasien menurun, Dr. Hugh Cassiere mengatakan bahwa kebanyakan dokter ICU cenderung kesulitan dalam memberikan perawatan kepada pasien. Berbeda ketika pasien hanya mengalami masalah pernapasan.

Pasien dengan kondisi seperti ini cenderung lebih mudah ditangani, meski cairan di dalam tubuhnya terbilang rendah. Namun, bila fungsi ginjal tidak berjalan sebagaimana mestinya, dokter tidak dapat mengeluarkan banyak cairan karena pasien kesulitan untuk buang air kecil.

"Jadi cairan apapun yang kita masukkan tidak keluar, dan itu bisa membuat kondisi paru-paru menjadi lebih buruk," ujar Hugh Cassiere yang juga merupakan ahli pulmonolg dan direktur medis di Respiratory Care Services, North Shore University Hospital, New York.

Cassiere memperkirakan 30-40% pasien positif COVID-19 yan gmenggunakan ventilator di ruang ICU mengalami masalah ginjal akut. Dan ini merupakan tanda bahwa penyakit yang dideritanya berpotensi memburuk.

"Setiap kali Anda berada di ICU, dan Anda mengalami cedera ginjal, itu adalah penanda untuk peningkatan risiko kematian," kata Cassiere.

Ironisnya, menurut laporan NBC News, 37 juta orang di Amerika Serikat diklaim memiliki penyakit ginjal kronis. Pasien dengan riwayat seperti inilah yang berisiko lebih besar terhadap infeksi virus pada umumnya, termasuk virus corona.

Oleh karenanya, National Kidney Foundation merekomendasikan pasien-pasien tersebut untuk memberikan perhatian khusus pada panduan social distancing (menjaga jarak sosial) dan rutin mencuci tangan setiap harinya. Para ahli juga mendesak mereka untuk melanjutkan perawatan dialisis dan obat yang diresepkan. (okz)
Komentar

Tampilkan

Terkini

SELEBRITI

+