Iklan

Joko Wibowo: Cukup Jenazah Istri Saya yang Ditolak, Rasanya Pahit dan Getir

Thursday, April 16, 2020, April 16, 2020 WIB Last Updated 2020-06-18T06:30:08Z

GO1news.com | Joko Wibowo tak pernah menyangka jenazah istrinya, Nuria Kurniasih ditolak warga saat hendak dimakamkan.

Nuria Kurniasih adalah perawat di RSUD dr Kariadi Semarang. Nuria meninggal akibat terinfeksi virus Corona atau Covid-19. Ia terpapar dari pasien yang dirawatnya.

Joko Wibowo mengatakan, tiga anaknya sempat trauma lantaran jenazah ibu mereka ditolak warga. Padahal, ibu mereka meninggal karena merawat pasien Corona.

Tiga anak Nuria Kurniasih masih duduk di kelas 1 SMA (16), kelas V SD (11) dan kelas III SD (9).

“Awalnya sempat stres, trauma ya, ibunya seperti itu, sudah merawat pasien, sampai dia mengorbankan diri, meninggal, tentu trauma,” kata Joko dalam program acara Mata Najwa, Rabu malam (15/4).

“Tapi saya sebagai orang tua terus mengedukasi sehingga bisa menerima bahwa manusia itu adalah sekadar untuk hidup di dunia, Tuhan yang menentukan. Akhirnya anak-anak bisa menerima,” tambahnya.

Joko yang juga berprofesi sebagai perawat ini berharap cukuplah istrinya yang ditolak jenazahnya. Sebab, rasanya pahit dan getir.

“Mudah-mudahan ini terkahir yang terjadi pada istri saya, karena benar-benar rasanya pahit, rasanya getir melihat penolakan seperti itu,” kata Joko.

Joko juga berharap agar anak-anaknya tidak dikucilkan oleh teman-temannya saat masuk sekolah nanti.

“Saya berharap di kemudian hari, anak-anak kami tidak diisolasikan lagi. Artinya anak-anak ini masih kecil, nanti ketika dia masuk sekolah jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, dikucilkan oleh teman-temannya,” katanya.

“Mudah-mudahan anak-anak saya dapat melanjutkan pendidikan yang lebih baik tanpa ibu di sampingnya,” pungkasnya.

Istri Joko Wibowo, Nuria diketahui tertular Covid-19 ketika bekerja di RSUD dr. Kariadi, Semarang. Ketika itu, Nuria masuk kerja shift siang untuk merawat pasien.

Pada tanggal 16 Maret, Nuria dirawat di ruang perawatan karena mengeluh demam dan pusing. Ia sempat berada di ruang perawatan biasa selama empat hari. Selanjutnya, Nuria dipindahkan ke ruang isolasi karena mengeluh sesak nafas.

Dokter kemudian melakukan beragam tes ke Nuria. Dimulai dari tes swab, rontgen hingga pengambilan darah.

“Setelah dirawat selama tiga hari di sana, saya dikabarkan istri sudah tiada,” tutur Joko lirih.

Jenazah Nuria kemudian dibawa ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Siwarak, Kelurahan Bandarjo, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang untuk dimakamkan pada hari Kamis (9/4).

Namun sebelum tiba di pemakaman, mobil ambulans yang membawa jenazah Nuria justru dihadang warga. Mereka menolak jenazah Nuria untuk dimakamkan di TPU Siwarak.

“Memang tinggal di Susukan, keluarga besar dimakamkan di Sewakul, jadi minta di sebelah bapaknya, ada penolakan,” kata Humas Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan. (pjk)
Komentar

Tampilkan

Terkini