Iklan

Nasib Tanpa Tujuan Pencari Suaka di Tengah Pandemi COVID-19

Sunday, April 12, 2020, April 12, 2020 WIB Last Updated 2020-06-18T06:31:08Z
Go1News.com-Sehari-hari nasib para pencari suaka yang terdampar di Indonesia sudah sulit. Kini diperparah saat pandemi COVID-19. "Kadang-kadang," kata Muhammad Akbar Anwari sambil tertawa getir, "kita seperti tidak hidup, tidak ada tujuan." 

"Kita seperti mati walaupun kita bernapas. Saya tidak bisa bilang apa-apa tentang masa depan.” Akbar, 20 tahun, adalah pengungsi asal Afganistan yang kini bermukim di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. 

sumber : tirto.id
Hidup sebagai pengungsi tidak pernah mudah. Namun kehidupan itu harus dijalani Akbar sejak 2015 dan kondisi itu diperparah dengan pandemi COVID-19 saat ini. Akbar berasal dari Helmand, satu dari 34 provinsi di negara itu.

Kakaknya bekerja sebagai penerjemah untuk warga negara Amerika Serikat, pekerjaan yang membuat keluarga itu jadi buruan teroris. Mencoba menyelamatkan diri, Akbar kabur dan mencari suaka hingga terdampar ke Indonesia. 

Panggang jauh dari api. Sampai lima tahun berselang, suaka itu tak kunjung diperolehnya. Status sebagai pencari suaka membuat Akbar tak boleh mencari pekerjaan. Meski demikian, biar bagaimanapun, perutnya harus tetap diisi. 

Akhirnya, Akbar dan sesama imigran membentuk sekolah; ia memanfaatkan kemampuan berbahasa Inggris dan bahasa Indonesia untuk mengajar murid yang umumnya sama-sama pencari suaka. Selain itu ia mengajar teknologi informasi di sekolah bentukan UNHCR, lembaga PBB yang mengurusi nasib pengungsi. 

Dari situ Akbar mendapatkan penghasilan untuk bertahan hidup dan tinggal di rumah kontrakan. Akbar mengaku selama sebulan membutuhkan Rp2 juta untuk hidup termasuk membayar kontrakan. Kondisinya tampak baik-baik saja sejauh ini sampai tiba-tiba pandemi COVID-19 melanda.

Data corona di Indonesia telah mencapai lebih dari 3.000 kasus positif COVID-19; Jawa Barat menjadi salah satu zona merah dengan lebih dari 300 kasus positif dan 35 kasus di antaranya meninggal dunia. Sementara di Kabupaten Bogor, ada lebih dari 23 kasus positif. 

Para pakar epidemiologi meyakini angka-angka itu tidak menunjukkan data sesungguhnya di lapangan mengingat masih sedikit sekali orang yang dites corona; Indonesia termasuk negara terburuk dalam kecepatan tes COVID-19 di dunia. 

Kondisi itu membuat murid-murid Akbar enggan keluar rumah untuk belajar lantaran khawatir terjangkit virus, tak terbayang jika harus positif COVID-19 dalam status sebagai pengungsi. "Untuk hidup sehari-hari saja kami sudah susah," kata dia. 

Kendati sekolah diliburkan, Akbar tak sampai hati melihat anak didiknya tak belajar. Akhirnya ia mengadakan kelas daring secara cuma-cuma. Di sisi lain, hidup tanpa gaji membuat kondisinya makin tercekik. 

Penghasilan selama ini hanya cukup untuk hidup sehingga tak ada sisa untuk ditabung, akibatnya ia terpaksa meminjam kepada kawannya yang warga negara Indonesia. Akbar memang mendengar kabar bahwa ada bantuan sembako bagi warga di wilayahnya. 

Namun, untuk mendapatkan itu, mereka harus menunjukkan kartu keluarga dan kartu tanda penduduk (KTP). Akibatnya Akbar dan pengungsi lain harus gigit jari. Di sisi lain, kantor UNCHR di Jakarta tutup karena pandemi. 

"Kemarin saya dengar kami akan sebulan lagi libur," kata Akbar sambil tertawa getir. Syauqi Ramadhan, 34 tahun, mengalami hal serupa. Pada hari-hari biasa pria asal Sudan itu bekerja sebagai guru bagi sesama pengungsi atau penerjemah bagi lembaga-lembaga yang mengurusi pengungsi.

Namun, kondisi seperti sekarang membuat ia dan pengungsi lain tak bisa keluar rumah sehingga kondisi keuangan makin morat-marit. "Saya ada usaha mengajar online lewat WhatsApp. 

Jadi saya bisa dapat uang sedikit," kata Syauqi. Hal lain yang menganggu pikirannya adalah layanan kesehatan. Syauqi tahu ada lembaga Church World Services yang memberi layanan kesehatan bagi pengungsi, tapi karena kemampuan pelayanannya relatif terbatas, alhasil yang mendapatkan bantuan dibatasi hanya untuk pengungsi dengan kondisi gawat darurat atau penyakit kronis. 

"Banyak yang sakit tapi sampai sekarang tidak bisa masuk ke rumah sakit," kata Syauqi. Syauqi berkara lembaga itu bisa membantu sekitar 100 pengungsi dari total 7.000-an pencari suaka di Jakarta. Sejauh ini, setahu dia, belum ada pengungsi dan pencari suaka terjangkit COVID-19.

Dari pelbagai kebijakan pemerintah terkait COVID-19, nasib pencari suaka memang sama sekali tidak tersentuh. Pemerintah Indonesia mengeluarkan aturan tentang pembatasan sosial, tapi tak memberikan solusi penghidupan bagi para pengungsi yang dilarang bekerja. 

“Di tengah pandemi corona yang terus meluas, dan imbauan swakarantina, para pencari suaka tidak ada dalam kebijakan penanganan COVID-19,” ujar Rizka Rachmah, Ketua Perkumpulan SUAKA lewat keterangan tertulis yang diterima redaksi Tirto. 

Anjuran berdiam di rumah dari pemerintah jadi membahayakan bagi pengungsi. Merujuk data UNHCR, ada 13.623 pengungsi yang bermukim di Indonesia per Januari 2020. Dari jumlah itu, 8.079 pengungsi di antaranya tinggal di tempat penampungan yang disediakan UNHCR dan lembaga rekanan, sementara sisanya tinggal di tengah permukiman masyarakat.

 Berkaca pada situasi di penampungan darurat Kalideres, Jakarta Barat, atau wilayah lainnya, umumnya para pengungsi tinggal berdesakan. 

Kondisi ini diakibatkan salah satunya kebijakan pemerintah Indonesia yang ogah memberikan penampungan bagi pengungsi sejak 31 Agustus 2019. “Padahal, dengan kondisi berdesakan itu, tentu saja mereka menjadi semakin mudah terpapar virus corona," kata Rizka. 

Perkumpulan SUAKA mendesak pemerintah menyertakan para pengungsi dan pencari suaka sebagai penerima manfaat dari program pemerintah menghadapi COVID-19. Salah satu yang bisa dilakukan saat ini ialah melakukan rapid test kepada mereka dan melakukan sosialisasi pencegahan COVID-19 yang dapat dipahami oleh para pengungsi, serta menyertakan pengungsi ke dalam program pemerintah untuk bantuan sosial, ujar Rizka. (tirto)
Komentar

Tampilkan

Terkini

SELEBRITI

+