Iklan

PDIP DKI Singgung Efek Kejut-Kritik Jumpa Pers Gegara Anies Nomor 1 Disurvey

Sunday, April 26, 2020, April 26, 2020 WIB Last Updated 2020-06-18T06:28:07Z
Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Gembong Warsono (Foto: Ari Saputra)
Go1News.com, Jakarta - Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta tak ingin mempersoalkan hasil survei yang menunjukkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan unggul dalam survei penanganan virus Corona. Namun, menurut PDIP, langkah Anies menangani Corona kerap berbenturan dengan pemerintah pusat.

"Saya tidak mau mempersoalkan itu, anggaplah itu suatu kebenaran, tetapi bagi kami Fraksi PDIP adalah bagaimana gerak dan derap langkah Pak Anies menangani COVID-19 ini di Jakarta relatif, ya, selalu bertubrukan dengan kebijakan pemerintah pusat. Itu yang selalu kami lihat," kata Ketua Fraksi PDIP DKI, Gembong Warsono kepada wartawan, Minggu (26/4/2020).

Menurut Gembong, harusnya Anies menjadi representasi pemerintah pusat di Jakarta. Namun, kenyataan di lapangan berbeda.

"Bagaimana pun juga, perlu dicatat bahwa gubernur itu adalah wakil pemerintah pusat di daerah, kan gitu. Dengan wakil pemerintah pusat di daerah secara otomatis kebijakannya harus selaras dengan kebijakan pemerintah pusat," ujar Gembong.

Gembong mencontohkan berbenturannya langkah Anies dengan pemerintah pusat. Dia menyinggung soal lockdown dan efek kejut yang sempat diutarakan oleh Anies.

"Misalkan contohnya, Pak Anies menggadang-gadang Jakarta mau diterapkan dengan lockdown, kan gitu, sementara pemerintah pusat tak menghendaki lockdowm tetapi punya kebijakan lain yang akhirnya disepakati PSBB itu, itu yang pertama," ucap Gembong.

"Yang kedua, soal dulu yang diistilahkan misalkan Pak Anies membuat efek kejut, kan gitu loh, yang pengurangan transportasi massal itu, yang membuat antrean warga Jakarta berpanjang-panjang saat itu. Jadi banyaklah kebijakan-kebijakan yang selalu bertentangan dengan pemerintah pusat," sambungnya.

Menurut Gembong, Anies sedang menjalankan programnya terlepas dari program yang lain. Gembong juga mengkritik Anies yang terlalu rajin menggelar jumpa pers di masa wabah Corona ini.

"Kenapa ini terjadi? Pak Anies kan punya agenda tersendiri. Jadi saya tidak mau memperdebatkan hasil surveinya cuma saya ingin menunjukkan kepada publik bahwa apa sih yang dikerjan oleh Pak Anies, gitu loh, yang dikerjakan dari hari ke hari selalu membuat press release-press release (jumpa pers -red), tetapi tidak melihat secara langsung apa kondisi yang terjadi masyarakat kelas bawah," imbuhnya.

Sebelumnya, berdasarkan survei persepsi publik dengan responden 800 orang, Gubernur Jakarta Anies Baswedan dinilai sebagai kepala daerah nomor satu dalam hal ketepatan menangani wabah virus Corona. Kepala daerah lain, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, misalnya, berada di urutan ke-5.

"Publik memang mempersepsi Anies Baswedan sementara ini sebagai yang paling kuat karena publik melihat Anies Baswedan yang paling cepat tanggap dan pertama kali berinisiatif mengambil langkah PSBB," kata Direktur Median, Rico Marbun, saat dimintai penjelasan oleh detikcom, Minggu (26/4).

Responden diberi pertanyaan, "Siapakah kepala daerah yang Anda sukai atau paling tepat cara menangani wabah Corona? Dari jawaban responden, maka lima besar kepala daerah yang dianggap publik tepat caranya dalam menangani wabah corona per pekan I-II April 2020 adalah:

1. Anies Baswedan 24,1%
2. Ganjar Pranowo 9,6 %
3. Ridwan Kamil 8,9%
4. Khofifah Indar Parawansa 8%
5. Tri Rismaharini 3,7% (detik)
Komentar

Tampilkan

Terkini

SELEBRITI

+
close